Rabu, 12 Januari 2011

Andi Taufan Garuda Putra Membantu Warga Miskin

Menabung Dan Mengelola Keuangan

OLEH: WHENY HARI MULJATI



BOGOR – "kba-GALANG"

Jalanan berbatu dan becek menyongsong begitu kami memasuki desa-desa ini. Motor salah satu teman kami bahkan tergelincir karena jalanan yang licin, dan sepatu pun nyaris masuk ke kubangan lumpur yang “menghiasi” sepanjang jalan-jalan berbatu yang kami lewati.

Tak disangka, ini adalah jalanan utama sebuah desa yang berlokasi kurang dari 50 kilometer dari Ibu Kota Negara.
Ternyata bukan hanya kondisi jalanan yang memprihatinkan, kemiskinan masyarakat di situ pun membuat hati miris. Di kawasan ini nuansa ketertinggalan mencakup area yang relatif luas dan terkait dengan sejumlah besar warga. Gerak kehidupan di sini terlihat timpang dibandingkan dengan di perumahan di sekitarnya. Rumah-rumah warga di kawasan ini kebanyakan terbuat dari bahan bilik bambu, berlantai tanah, dengan fasilitas sanitasi dan penerangan yang sangat tidak memadai, sementara warga perumahan yang berlokasi tak jauh dari sini, rata-rata bermobil.


Di tengah kondisi inilah Andi Taufan Garuda Putra (23) dan kawan-kawannya datang menawarkan solusi. Melalui koperasi yang mereka dirikan, Amartha Microfinance atau Koperasi Amartha Indonesia (KAI), Taufan mencoba membantu warga setempat untuk bangkit dari keterpurukan dan mendampingi mereka meningkatkan taraf kehidup­an.


Bersama teman-temannya, Taufan mengembangkan model pinjaman seperti Grameen Bank dengan memasukkan konsep pinjaman syariah. Ia membentuk kelompok perempuan beranggotakan 20 orang, kemudian memberi pinjaman Rp 500.000 dengan jangka waktu pengembalian 50 minggu. Selain itu, ia rutin menggelar pertemuan mingguan, di mana di setiap pertemuan anggota kelompok membayar cicilan pinjaman mereka dengan jumlah sekitar Rp 13.000.
Hingga kini Taufan telah berhasil membentuk lima kelompok perempuan dengan masing-masing anggota kelompok berjumlah 15-20 orang, di lima RT di Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor. Apabila ada anggota yang kesulitan mengembalikan pinjaman, kelompok akan mengembalikan pinjaman dengan sistem tanggung renteng. Melalui kelompok ini, warga juga bersama-sama belajar menabung dan mengelola keuangan keluarga mereka yang serbaterbatas.


“Saya senang aya Amartha, karena bisa ketawa,” jawab Ibu Cicih dengan logat Sunda ketika pertama kali ditanya SH tentang kehadiran KAI. Tak berapa lama kemudian, kaum ibu yang berkumpul Kamis (6/1) siang itu pun berlomba menceritakan kepada SH tentang penggunaan uang pinjaman mereka. Ada yang untuk membayar utang, menambah modal berjualan sayur, untuk membeli bibit dan pupuk, membayar uang sekolah anak, atau untuk memperbaiki rumah mereka yang kondisinya sudah tak layak huni.


Tim Taufan tampak akrab dengan warga, walaupun saat SH ikut menyusuri dusun-dusun, sebagian penduduknya masih tampak menyimpan curiga. “Kemiskinan membuat mereka inferior dan cenderung curiga terhadap orang asing,” ujar Taufik dari Amartha ketika melihat beberapa warga menghindar saat kami data­ngi.

Dana Pribadi
Sepak terjang Taufan dan Amartha ini bisa dibilang relatif baru, namun keputus­annya untuk menekuni bidang ini patut diacungi jempol. Tidak banyak anak muda se­usianya yang memiliki ketertarikan dan pemikiran cukup mendalam terkait persoalan kemiskinan. Dengan langkah cukup berani, pada usianya yang tergolong muda, Taufan meninggalkan pekerjaan kantorannya dan merintis kope­rasi untuk membantu kalang­an miskin.


Menurut anak pertama dari dua bersaudara ini, ia memilih wilayah kerja Amartha di Bogor, karena penduduk di wilayah ini merupakan yang termiskin di Jawa Barat. Perlu riset panjang dan waktu sebulan lebih untuk menemukan Desa Cibeuteung Udik, Karihkil, dan Putatnutug di Kecamatan Ciseeng yang letaknya di pelosok, dan selama ini belum terjamah bantuan modal. Sementara itu, jumlah warga miskin di kawasan ini mencapai 20 persen dari jumlah penduduknya.
Pada masa awal implementasinya, Taufan dan tim menggunakan dana pribadi sebagai dana pinjaman yang diberikan pada perorangan. Kini dia terus berupaya membuka mata berbagai pihak donor tentang pentingnya membantu modal usaha skala mikro. “Beberapa perusahaan besar sudah mulai menangkap peluang usaha ini, karena memang menguntungkan. Kami dari Amartha melakukannya, antara lain, juga karena ingin membantu masyarakat bawah ke akses modal,” ujar Hardi, salah satu pendiri Amartha.


Menurut Taufan, kehidup­an masyarakat miskin ini bisa berubah ketika memiliki akses ke kapital. Taufan dan timnya berharap jumlah warga miskin yang akan dibantu melalui Amartha akan terus bertambah dari jumlah 100 orang yang sekarang ini mereka ta­ngani.
Dengan demikian, dia dapat turut membantu me­ng­entaskan masyarakat dari lingkaran kemiskinan. Selama ini, warga miskin sulit mendapatkan akses modal karena kemiskinan dan ketertinggalan mereka. “Jangankan ke bank, membaca dan mengisi formulir sederhana saja mereka perlu kami bantu,” ujar Taufan. n sumber sinar harapan-//kba-ajiinews//galang//.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar