Pengamat Kontruksi Aji Ahmad dengan latar belakang kegiatan proyek di SDN Majalengka Kulon I. (Foto: Eko)
DENGGOL Bicara Siapa Dia:Perbaikan Untuk Proses Belajar Yang Lebih Baik
MAJALAHGALANG.COM-MAJALENGKA JAWA BARAT: Majalengka memang sedang giat membangun. Dari jalan, taman kota, sampai sekolah. Semangatnya bagus: pendidikan diperbaiki, gedung sekolah dipercantik, murid belajar lebih nyaman. Namun masalahnya, di negeri +62 ini, proyek pembangunan terkadang lebih cepat dilakukan di spanduk daripada di lapangan.
Itulah yang kini ramai dibicarakan soal proyek revitalisasi SDN Majalengka Kulon 1 yang bersumber dari Program Bantuan Presiden (Banpres) Tahun Anggaran 2026 senilai Rp 879.229.330 dan dikerjakan CV Manjadda Wajada.
Pengamat konstruksi Aji Ahmad sampai harus turun langsung melihat pekerjaan proyek tersebut. Hasilnya? Bukannya tenang, malah bikin kening berkerut. “Kalau melihat kondisi di lapangan, ada beberapa item pekerjaan yang tidak sesuai gambar DED,” kata Aji saat ditemui di kediamannya, Selasa (19/5/2026).
Nah, kata “tidak sesuai” ini biasanya jadi kalimat paling menyeramkan dalam proyek konstruksi. Sebab pengalaman publik sudah panjang: kalau spesifikasi mulai “fleksibel”, yang ikut fleksibel biasanya kualitas bangunan.
Salah satu yang dibicarakan Aji adalah pemasangan rangka atap baja ringan. Dalam gambar Detail Engineering Design (DED), atap kuda-kuda seharusnya dipasang railing atau bracing—semacam pengaku agar konstruksi lebih stabil dan tidak mudah oleng.
Masalahnya, komponen itu disebut tidak terlihat di lapangan. Yang menarik justru penjelasan dari pihak pelaksana. Awalnya disebut sudah sesuai gambar. Tapi setelah gambar DED diperlihatkan, kekeliruan berubah: railing akan dipasang nanti setelah kuda-kuda berdiri di atas dinding.
Di titik ini, logika teknik mulai terasa seperti sinetron kejar tayang. “Secara teknis itu tidak efektif dan tidak logistik,” ujar Aji. Kalau diterjemahkan ke bahasa warga biasa: ya ngapain pengaku dipasang belakangan kalau dari awal memang bagian penting struktur?
Belum selesai soal atap, muncul lagi cerita tentang besi ring balok. Dalam gambar DED, tulangan utama sebaiknya memakai besi polos 12 milimeter dan begel 8 milimeter. Tapi yang ditemukan di lapangan justru besi 10 milimeter dan begel 6 milimeter.
Sekilas memang cuma beda angka. Namun dalam dunia konstruksi, selisih ukuran besi itu bukanlah hal sepele. Ini bukan seperti tukang bakso yang mengurangi satu butir bakso biar tetap untung. Ini mencakup kekuatan struktur bangunan sekolah.
Aji menduga ada indikasi pengurangan volume pekerjaan secara diam-diam. “Kalau struktur item utama saja berbeda, bukan tidak mungkin ada item lain yang juga dikurangi tanpa mekanisme adendum,” katanya.
Yang bikin tambah menarik, papan proyek di lokasi juga tidak menyebutkan nomor kontrak atau nomor SPK. Padahal papan proyek itu mengibarat KTP sebuah pekerjaan: publik berhak mengetahui proyek ini pada dasarnya apa, berapa nilai, dan siapa yang bertanggung jawab.
Aji juga menyoroti satu hal yang sering luput dibicarakan publik: skema revitalisasi sekolah sebenarnya berbasis swakelola. Artinya, sekolah seharusnya menjadi pelaksana utama karena dana ditransfer langsung ke rekening sekolah.
“Dalam aturan, sekolah dilarang menyerahkan pekerjaan secara utuh kepada kontraktor,” ujarnya. Kalimat itu mungkin terdengar administratif. Tapi maknanya penting: jangan sampai sekolah cuma jadi stempel, sementara proyek sepenuhnya dikendalikan pihak lain.
Karena begini. Bangunan sekolah itu bukan sekedar tembok dan atap. Di dalamnya ada anak-anak yang setiap pagi belajar mengeja cita-cita. Kalau kualitas bangunannya dikurangi demi mengejar keuntungan, yang dipertaruhkan bukan hanya anggaran negara, tapi juga rasa aman murid-murid yang duduk di bawah atap itu setiap hari.
Hingga berita ini ditulis, pihak SDN Majalengka Kulon 1 maupun CV Manjadda Wajada belum memberikan tanggapan resmi terkait temuan tersebut. (www.majalahgalang.com//ras/@eko)